Ingin Usaha Anda Sukses? Yuk Simak Cara UMKM Naik Kelas ini

cara umkm naik kelas
Sumber Foto : umkm.online

 

Pendapat mengenai pengembangan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sudah sering terdengar. Namun masih ada di antara pendapat tersebut tanpa klasifikasi dan kriteria jelas sehingga mempersulit penerapannya. Sedangkan cara UMKM naik kelas lebih bertumpu pada indikator kuantitatif.  Artikel berikut akan mengupas kategorisasi kelas UMKM menurut UU No. 20 Tahun 2008. Terdapat pemekaran di setiap kelas yang kemudian terbagi lagi ke dalam tiga bagian. Kriteria yang dipakai adalah pemenuhan kebutuhan, aset, dan omset. Cara UMKM naik kelas ini berdasarkan penilaian kuantitatif. 

 

Menentukan Kelas Saat Ini 

 

Sebelum menuju naik kelas tertentu, Anda harus mengetahui kelas bisnis saat ini. Kami mengambil pendapat dari Raden Tedy, Ketua Umum Komunitas UMKM Naik Kelas.  Berikut rinciannya:

 

Kelas Penjualan Per Tahun Aset
Kategori Usaha Mikro

1.      Kelas Mikro Tunas

2.      Kelas Mikro Berkembang

3.      Kelas Mikro Mekar

 

Maksimal Rp130 Juta

Rp130 Juta – Rp200 Juta

Rp200 Juta – Rp300 Juta

 

Maksimal Rp10 Juta

Maksimal Rp 25 Juta

Maksimal Rp 50 Juta

Kategori Usaha Kecil

1.      Kelas Kecil Tunas

2.      Kelas Kecil Berkembang

3.      Kelas Kecil Mekar

 

Rp300 Juta – Rp1 Miliar

Rp1 Miliar – Rp1,75 Miliar

Rp1,75 Miliar – Rp2,5 Miliar

 

Maksimal Rp100 Juta

Maksimal Rp250 Juta

Maksimal Rp 500 Juta

Kategori Usaha Menengah

1.      Kelas Menengah Tunas

2.      Kelas Menengah Berkembang

3.      Kelas Menengah Mekar

 

Rp2,5 Miliar – Rp20 Miliar

Rp20 Miliar – Rp35 Miliar

Rp35 Miliar – Rp50 Miliar

 

Maksimal Rp2 Miliar

Maksimal Rp5 Miliar

Maksimal Rp10 Miliar

 

Tentukan kelas Anda menurut tabel di atas. Sebagai contoh, apabila Anda berhasil meraup pendapatan Rp1 juta setiap hari maka dalam sebulan bisa memperoleh Rp30 juta. Per tahun, pendapatan Anda mencapai Rp360 juta. Melihat hal tersebut, bisnis Anda berada pada kelas Kecil Tunas. Target Anda sebaiknya menuju ke Kecil Berkembang dalam waktu dekat lalu Kecil Mekar. 

 

Mengerek Penjualan

 

Cara UMKM naik kelas berikutnya adalah mau tidak mau dengan menambah volume penjualan. Tentunya ini hal yang menantang di tengah pandemi COVID-19 seperti saat ini. 

 

Terdapat beberapa skenario. Jika produk Anda saat ini belum terlalu laris, Anda dapat memperluas target pasar. Apabila produk Anda sudah sulit bertahan, Anda dapat mengganti fokus ke produk lain. Cara reselling dapat membantu jika sulit modal.  

 

Gunakan platform digital, seperti media sosial dan aplikasi e-commerce, untuk menambah penjualan. Cara offline dapat membantu, seperti mengikuti komunitas, perkumpulan kewirausahaan, agenda kegiatan pemerintah setempat, dan lainnya. 

 

Manfaatkan media promosi, seperti flyer, untuk memperkenalkan dan atau memperkuat branding produk Anda. Siapkan layanan garansi dan jaminan keamanan agar meyakinkan calon pembeli. Sertakan layanan pembayaran yang mempermudah calon konsumen.

 

Anda dapat mencari guru bisnis yang sudah sukses di bidangnya masing-masing. Inilah pentingnya mengikuti perkumpulan wirausahawan, Kadin Indonesia, dan Dina Koperasi dan UMKM. 

 

Baca juga : Manfaat Aplikasi Kasir untuk UMKM yang Ingin GO Digital

 

Menambah Aset

 

Aset berarti kekayaan dalam wujud uang atau benda berwujud lainnya. Contohnya, persediaan, piutang, uang kas/bank, tanah dan bangunan, kendaraan, peralatan/ perabotan dan lain-lain yang digunakan untuk menunjang usaha.

 

Tantangannya adalah ada UMKM yang masih lebih fokus untuk memenuhi kebutuhan pokok atau konsumtif. Tidak ada dana tersisa untuk menambah aset. Ada pula pelakon UMKM yang tidak bisa menambah aset lantaran mempunyai gaya hidup konsumtif tinggi.

 

Solusinya adalah menambah omset dengan cara menetapkan target laba per bulan, menghitung biaya keperluan pokok yang meliputi konsumsi, pendidikan dan tanggungan wajib lainnya. 

 

Target laba maksimal sebaiknya 125% dari kebutuhan pokok Anda. Hitungan ini akan menghasilkan laba tersisa. Sebagai contoh, target biaya keperluan pokok Rp3 juta per bulan. Dengan angka tersebut, target laba minimal 12% dari kebutuhan pokok sehingga menjadi Rp3.750.000 per bulan. 

 

Katakanlah, persentase  keuntungan adalah 10% dari produk dijual maka target penjualan bisa dipatok pada Rp3.750.000 (10% dari produk dijual). Atau, penjualan dapat mencapai Rp3.750.000/10% menjadi Rp37.500.000 per bulan. Bila berdagang penuh selama 30 hari, penjualan per hari mencapai Rp1.250.000. Jika harga satuan produk Rp20 ribu per buah, target Anda sebaiknya bisa menjual 63 produk per hari. Jangan lupa untuk mengubah laba 25% menjadi tambahan aset jika target tercapai. 

 

Beralih ke teknologi

 

Mengalihkan promosi dan penjualan ke daring menjadi hal wajib saat ini. Mayoritas calon konsumen memakai smartphone untuk berselancar di dunia maya. Di ranah inilah “kolam” Anda menambah penjualan. Jika Anda kurang paham dunia e-commerce, Anda bisa mengikuti pelatihan atau cukup menghubungi pihak ketiga untuk mengurusnya.

 

Menuju UMKM Go Digital

 

Di era digitalisasi saat ini, penggunaan media sosial sudah sulit dilepaskan dalam kegiatan sehari-hari. Hal ini bisa dimanfaatkan dalam oleh UMKM. Karena dengan pemanfaatan promosi produk melalui media sosial. UMKM bisa mengembangkan usahanya jauh lebih luas untuk menjangkau target pasarnya. 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *